Rhany Chairunissa Rufinaldo
19 Februari 2019•Update: 20 Februari 2019
Adil Essabiti dan Hacer Baser
TUNIS, Tunisia
Pusat Studi Keamanan Global Tunisia pada Senin mengatakan bahwa 1.000 teroris telah kembali ke negara itu dari zona konflik dari 2011 hingga Oktober 2018.
Mokhtar Ben Nasr, kepala komite eksekutif lembaga itu, mengatakan kepada wartawan bahwa pihak berwenang Tunisia telah mencegah 17.000 orang meninggalkan negara itu untuk pergi ke zona konflik seperti Suriah, Irak dan Libya.
Dia mengatakan ada 3.000 warga Tunisia yang berada di zona konflik, di mana banyak dari mereka telah meninggal dunia dan beberapa dari mereka melarikan diri ke berbagai daerah untuk menemukan tempat berlindung yang aman.
Nasr menekankan bahwa jumlah teroris di pegunungan Tunisia telah berkurang dengan cukup signifikan.
Dua minggu lalu, sebuah kelompok teroris beranggotaan empat orang telah kembali ke negara itu atas permintaan pihak berwenang Tunisia, kata Nasr, seraya menambahkan anggota kelompok itu saat ini sedang melalui proses pengadilan.
Pembahasan tentang teroris diangkat setelah Presiden AS Donald Trump pada Sabtu malam mendesak negara-negara Eropa untuk mengambil kembali ratusan teroris asing Daesh yang ditangkap di Suriah dan mengadili mereka.
"Amerika Serikat meminta Inggris, Prancis, Jerman dan sekutu Eropa lainnya untuk mengambil kembali lebih dari 800 pejuang ISIS yang kami tangkap di Suriah dan mengadili mereka," kata Trump di Twitter, menggunakan nama lain untuk Daesh.
"Kekhalifahan siap untuk jatuh. Alternatifnya bukanlah sesuatu yang bagus karena kita akan dipaksa untuk membebaskan mereka," tegas dia, merujuk pada teroris Daesh.