Muhammed Yasin Güngör
25 Agustus 2026•Update: 25 Agustus 2026
Amerika Serikat (AS) secara resmi menghapus Suriah dari daftar negara sponsor terorisme pada Senin, memenuhi komitmen Presiden Donald Trump untuk memberikan pelonggaran sanksi kepada pemerintahan Suriah pasca-Bashar Assad.
Menurut Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) Departemen Keuangan AS, Suriah tidak lagi dikenai larangan berdasarkan regulasi sanksi terhadap pemerintah yang masuk dalam daftar terorisme.
Washington juga mencabut penetapan Front al-Nusra, yang juga dikenal sebagai Hay'at Tahrir al-Sham (HTS), sebagai organisasi Teroris Global yang Ditunjuk Secara Khusus.
OFAC turut menghapus HTS dari daftar Specially Designated Nationals and Blocked Persons (SDN), yang selama ini menjadi dasar pembekuan aset dan pembatasan transaksi terhadap kelompok tersebut.
Sebagai konsekuensinya, General License 25 yang sebelumnya mengizinkan sejumlah transaksi yang sebenarnya dilarang karena keterlibatan HTS dalam pemerintahan juga dicabut karena dinilai "tidak lagi diperlukan."
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan keputusan tersebut merupakan pengakuan atas "langkah-langkah positif" serta "komitmen lebih lanjut" pemerintah Suriah untuk sepenuhnya menjauhkan negara itu dari tindakan terorisme internasional.
Rubio mengatakan pemerintahan baru di Damaskus telah mengambil "langkah-langkah signifikan" untuk melawan kelompok teroris ISIS (Daesh), Al-Qaeda, Hizbullah, serta kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Iran.
Suriah juga secara resmi bergabung dengan Koalisi Global untuk Mengalahkan ISIS pada November tahun lalu.
Rubio menekankan bahwa pencabutan status negara sponsor terorisme tersebut "menghilangkan hambatan besar terakhir" bagi investasi sektor swasta, sehingga dapat memfasilitasi pemulihan ekonomi Suriah dan reintegrasinya ke dalam perekonomian global.
Trump sebelumnya secara resmi memberi tahu Kongres AS pada 8 Juli mengenai rencananya mencabut status tersebut setelah bertemu Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa di Ankara.
Suriah masuk dalam daftar negara sponsor terorisme AS sejak 1979. Sebelum pencabutan tersebut, Suriah berbagi status itu dengan Kuba, Korea Utara, dan Iran.
Status tersebut selama ini menimbulkan hambatan besar terhadap bantuan keamanan, transaksi keuangan, serta investasi asing di Suriah.
HTS merupakan salah satu kelompok bersenjata paling menonjol yang melawan pasukan Bashar Assad selama perang saudara Suriah.
Kelompok tersebut dipimpin oleh Ahmad al-Sharaa, yang kemudian menjadi presiden Suriah setelah pemerintahan Assad tumbang.
Perubahan kebijakan Washington berlangsung setelah jatuhnya pemerintahan Assad pada Desember 2024 dan upaya pemerintahan Sharaa untuk menstabilkan negara tersebut.
Sharaa melakukan kunjungan bersejarah ke Gedung Putih pada November tahun lalu, menjadikannya pemimpin Suriah pertama yang berkunjung ke sana sejak negara itu merdeka pada 1946.
Kunjungan itu berlangsung setelah Sharaa sebelumnya bertemu Trump di Riyadh pada Mei 2025, tidak lama sebelum Washington mencabut sanksi Caesar terhadap Suriah.