Zeynep Duyar, Emir Yildirim
09 Juli 2026•Update: 09 Juli 2026
Proyek antariksa menjadi salah satu agenda utama dalam KTT NATO di Ankara pekan ini. Dalam pertemuan tersebut, para pejabat mengumumkan bahwa satelit Imece milik Turkiye dan jaringan satelit orbit rendah buatan perusahaan pertahanan Aselsan akan memainkan peran penting dalam arsitektur antariksa baru NATO.
Para pemimpin NATO mengumumkan proyek antariksa dan pengawasan senilai USD 4,012 miliar dalam Forum Industri Pertahanan yang berlangsung di sela-sela KTT NATO pada Selasa dan Rabu di ibu kota Türkiye.
Salah satu proyek utama adalah Hybrid Alliance Layered Operations in Space (HALO), yang bertujuan mengintegrasikan satelit militer milik Turkiye, Jerman, Denmark, Finlandia, Belanda, Swedia, Kanada, dan Norwegia ke dalam satu konstelasi satelit terpadu.
Konstelasi tersebut diharapkan mampu mengatasi keterbatasan biaya, waktu, dan cakupan yang selama ini dihadapi armada satelit milik masing-masing negara.
Melalui sistem terintegrasi itu, NATO akan memperoleh kemampuan yang lebih baik dalam komunikasi berkecepatan tinggi, pengumpulan intelijen, serta pelacakan rudal.
Turkiye akan berkontribusi melalui pengembangan dua satelit observasi bumi beresolusi tinggi, Imece-2 dan Imece-3, yang dikembangkan berdasarkan satelit observasi bumi Imece oleh Tubitak Space, divisi antariksa dari Dewan Riset Ilmiah dan Teknologi Turkiye (Tubitak).
Kedua satelit tersebut akan diproduksi di Ankara melalui kontrak senilai lebih dari USD 300 juta.
Satelit baru itu akan beroperasi bersama satelit Imece yang telah ada sehingga memungkinkan pemantauan wilayah yang lebih luas dalam waktu yang lebih singkat, sekaligus mempercepat siklus pengamatan ulang di kawasan-kawasan strategis.
Kemampuan tersebut diharapkan mempercepat penyediaan intelijen di wilayah krisis, kawasan perbatasan, wilayah maritim, pergerakan militer, hingga penanganan bencana.
Satelit Imece, yang merupakan satelit observasi bumi pertama buatan dalam negeri Turkiye dengan resolusi di bawah satu meter, saat ini telah dioperasikan oleh Komando Angkatan Udara Turkiye dengan nama Gokturk-2B.
Selain itu, Turkiye juga menandatangani kontrak senilai lebih dari US$350 juta dengan Aselsan untuk mengembangkan satelit orbit rendah, jaringan komunikasi militer, dan sistem radar peringatan dini sebagai bagian dari sistem pertahanan udara berlapis Steel Dome.
Proyek tersebut diperkirakan akan meningkatkan kemampuan komunikasi medan tempur yang aman serta sistem deteksi peringatan dini Turkiye.
Chief Executive Officer (CEO) Aselsan, Ahmet Akyol, mengatakan kepada Anadolu bahwa penunjukan perusahaannya untuk merancang satelit komunikasi orbit rendah yang aman merupakan bukti tingginya kepercayaan dunia terhadap kemampuan rekayasa teknologi Turkiye.
Menurut Akyol, Aselsan akan mengembangkan jaringan satelit generasi baru guna memenuhi kebutuhan komunikasi militer dan strategis NATO.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal NATO Radmila Shekerinska mengatakan bahwa Spanyol telah bergabung dalam proyek Alliance Persistent Surveillance from Space (APSS). Ia juga mengumumkan peluncuran inisiatif baru Starlift, yang bertujuan membangun jaringan respons cepat untuk meluncurkan satelit cadangan saat terjadi keadaan darurat.