Muhammad Abdullah Azzam
19 September 2020•Update: 20 September 2020
Busra Nur Bilgic Cakmak
ANKARA
Uni Eropa pada Jumat meminta Rusia untuk membebaskan semua warga Tatar Krimea yang "ditahan secara ilegal".
"Uni Eropa tidak mengakui penegakan undang-undang Rusia di Krimea dan kota Sevastopol karena ilegal menurut hukum internasional, atau pemindahan warga Ukraina dari Krimea ke pengadilan di Rusia," kata juru bicara Uni Eropa Peter Stano dalam sebuah pernyataan.
“Uni Eropa berharap Rusia mengakhiri tekanan terhadap komunitas Tatar Krimea. Standar hak asasi manusia internasional harus dijamin di semenanjung itu,” tambah Stano.
Pada Rabu kemarin, pengadilan militer di Rostov-on-Don, Rusia selatan, menghukum delapan Tatar Krimea dengan 13 sampai 19 tahun penjara atas tuduhan terlibat dalam "terorisme".
Uni Eropa mendesak Rusia untuk membatalkan keputusan ini dan membebaskan semua warga Ukraina yang ditahan secara ilegal tanpa penundaan.
Pasukan Rusia menduduki Semenanjung Krimea pada Februari 2014, di mana Presiden Rusia Vladimir Putin secara resmi membagi wilayah itu menjadi dua wilayah federal terpisah dari Federasi Rusia pada bulan berikutnya.
Sejak saat itu, Tatar Krimea terus berjuang untuk integritas teritorial Ukraina melawan pendudukan Rusia.
Etnis Tatar Krimea menghadapi penganiayaan sejak Rusia mengambil alih semenanjung pada 2014.
Turki, Amerika Serikat (AS), dan Majelis Umum PBB memandang aneksasi itu ilegal.