Hayati Nupus
23 November 2020•Update: 24 November 2020
JAKARTA
Singapura merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi tahunan menjadi berkontraksi 6-6,5 persen, ujar Kementerian perdagangan dan Industri pada Senin.
Dalam siaran persnya, lembaga tersebut mengatakan bahwa proyeksi ini berbeda dengan perkiraan sebelumnya yang berada di angka 5-7 persen.
Revisi itu dilakukan, ujar kementerian, meski pertumbuhan ekonomi di kuartal ketiga ini berkontraksi 5,8 persen.
Jumlah ini lebih dari separuh penurunan ketika circuit breaker diberlakukan di kuartal sebelumnya yang hingga 13,3 persen.
Singapura juga memprediksi pertumbuhan ekonomi positif 4-6 persen untuk tahun depan.
Jalan panjang menuju pemulihan ekonomi
Terkait jalan panjang Singapura menuju pemulihan ekonomi itu, Menteri Perdagangan dan Industri Chan Chun Sing mengatakan bahwa negara tersebut sudah “di jalur yang benar, perlahan tapi pasti”.
Saat ini, situasi telah membaik ketimbang kuartal sebelumnya, namun “masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan”.
Menurut Chan, ada empat faktor yang memengaruhi laju pemulihan ekonomi Singapura.
Dua faktor pertama berada dalam kendali Singapura. Yaitu tingkat infeksi Covid-19 dan kemampuan bisnis serta pekerjanya untuk menyesuaikan diri; juga adaptasi dengan realitas baru dunia bersama Covid-19.
“Jika kami dapat terus menjaga agar tingkat infeksi tetap rendah, kami akan dapat melanjutkan lebih banyak aktivitas dan meningkatkan interaksi dengan seluruh dunia,” kata Chan, kutip Channel News Asia pada Senin.
Sementara dua faktor lain berada di luar kendali Singapura. Yaitu dinamika geopolitik antara negara-negara besar seperti AS dan China, serta gelombang infeksi berulang yang mungkin terjadi secara global.
“Kami berharap kedua belah pihak akan meredakan ketegangan dan kembali ke tatanan ekonomi global yang lebih terbuka dan inklusif,” kata dia.