Muhammad Abdullah Azzam
25 Juli 2018•Update: 25 Juli 2018
Gamze Turkoglu Oguz
ANKARA
Lima anak yang tinggal di kamp pengungsian Muslim Arakan tewas akibat tanah longsor yang disebabkan oleh hujan deras yang mengguyur Bangladesh, Rabu.
Polisi melaporkan hujan lebat yang mengguyur wilayah Cox's Bazar selama tiga hari berturut-turut itu menyebabkan tanah longsor tak jauh dari kamp pengungsian Muslim Arakan. Empat dari lima anak yang tewas dalam insiden tersebut berasal dari satu keluarga.
Lembaga bantuan kemanusiaan memperingatkan adanya kemungkinan ancaman bencana alam yang disebabkan hujan monsun di berbagai wilayah.
Menurut Amnesty International, sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh setelah tentara Myanmar melancarkan operasi atas kelompok Muslim minoritas.
Dokter Lintas Batas (MSF) mengatakan, sedikitnya 9,400 Rohinga tewas di Rakhine sepanjang 25 Agustus-24 September tahun lalu.
Dalam sebuah laporan yang dirilis baru-baru ini, MSF menyebutkan bahwa 71,7 persen kematian atau 6.700 orang disebabkan oleh kekerasan. Sebanyak 730 di antaranya adalah anak-anak berusia di bawah lima tahun.
Rohingya, yang disebut-sebut PBB sebagai kaum paling teraniaya di dunia, telah menghadapi sejumlah serangan sejak kekerasan komunal meletus pada 2012 dan menewaskan puluhan jiwa.
PBB mencatat adanya pemerkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak-anak - pemukulan brutal, dan penghilangan paksa yang dilakukan oleh personel keamanan.
Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan.