Pizaro Gozali İdrus
28 Juni 2019•Update: 01 Juli 2019
Pizaro Gozali
JAKARTA
Meskipun ajaran baru sekolah di seluruh Myanmar telah dibuka sejak 3 Juni, sebanyak 118 sekolah di Paletwa di Negara Bagian Chin tetap ditutup sebagai akibat dari pertempuran antara Arakan Army dan militer, lansir Myanmar Times pada Jumat.
Komite Pendukung Pengungsi Chin (CRSC) mengatakan dari 118 sekolah, beberapa ditutup karena terletak di daerah konflik dan beberapa ditutup karena tidak ada guru di sekolah.
"Para guru tidak berani pergi ke sekolah karena mereka merasa terancam oleh perang dan tidak dapat mengandalkan Arakan Army atau militer untuk menjamin keamanan," kata Salai Htan Naing, anggota CRSC.
Dia menambahkan sebanyak 94 sekolah di Paletwa yang telah buka juga menghadapi kekurangan guru.
CSRC mengatakan warga sipil di Paletwa terperangkap di tengah bentrokan antara kelompok bersenjata dan militer.
Para warga sipil juga meminta agar pertempuran dihentikan.
Gabungan organisasi di Chin, Yangon akan mengadakan demonstrasi memprotes peperangan di Paletwa pada 13 Juli, kata seorang anggota CSRC.
Diperkirakan ada 4000 pengungsi di 11 desa di kota Paletwa yang saat ini berlindung di dua desa - Meezar dan Shin Letwa - dan membutuhkan makanan dan obat-obatan.
Pertempuran di dan sekitar Paletwa dimulai pada tahun 2015, ketika Arakan Army pindah ke daerah tersebut.
Paletwa adalah satu dari sembilan kota di Myanmar yang layanan internet ponselnya ditutup oleh pemerintah pekan lalu.