Rhany Chairunissa Rufinaldo
28 Juni 2019•Update: 30 Juni 2019
Serife Cetin
BRUSSELS
Pertemuan presiden Turki dan Amerika Serikat selama KTT G-20 di Jepang dapat membantu menyelesaikan masalah pembelian sistem pertahanan Rusia S-400 Rusia, kata Sekretaris Jenderal NATO pada Kamis.
"Ketika Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden AS Donald Trump bertemu di Jepang minggu ini, semoga dapat membawa beberapa kemajuan," kata Jens Stoltenberg kepada wartawan setelah pertemuan para menteri pertahanan NATO di Brussels.
Menyambut dialog antara Turki dan AS mengenai masalah S-400, Stoltenberg mengatakan itu bukan bagian dari pertemuan NATO, tetapi sempat dibahas di sela-sela.
Hubungan AS dan Turki telah memanas dalam beberapa bulan terakhir karena Turki mulai menerima sistem pertahanan rudal mutakhir Rusia, yang menurut Washington akan membahayakan posisi Turki dalam program jet tempur F-35 AS, dan bahkan bisa memicu sanksi kongres.
Karena upayanya untuk membeli sistem pertahanan udara dari AS tak kunjung berhasil, Ankara memutuskan membeli sistem S-400 Rusia pada 2017.
Para pejabat AS mendesak Turki untuk membeli sistem rudal Patriot AS ketimbang S-400 dari Moskow, dengan alasan sistem Rusia tidak sesuai dengan sistem NATO.
Sementara itu, Turki, menekankan bahwa S-400 tidak akan diintegrasikan ke dalam sistem NATO dan tidak akan menimbulkan ancaman bagi aliansi.
Pada pertemuan menteri pertahanan NATO, Stoltenberg mengatakan sekutu juga membahas perkembangan di Afghanistan.
"NATO akan terus memberikan dukungan keuangan kepada pasukan keamanan Afghanistan hingga 2024," ujar dia.
Stoltenberg menambahkan bahwa mereka akan terus hadir di negara itu selama diperlukan, untuk mencegah Afghanistan kembali menjadi tempat belindung yang aman bagi teroris internasional.
Dia mengatakan bahwa aliansi juga menyetujui kebijakan baru tentang luar angkasa.