Peter Kenny
14 Desember 2021•Update: 17 Desember 2021
JENEWA
Pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di Myanmar Tom Andrews pada Senin memulai kunjungan pertamanya ke Bangladesh dan dia berharap dapat bertemu dengan warga Rohingya yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.
“Dunia tidak boleh melupakan sekitar satu juta orang Rohingya yang terpaksa melarikan diri dari Myanmar atas serangan genosida militer terhadap mereka,” kata Andrews dalam sebuah pernyataan.
“Orang-orang Rohingya tidak menginginkan apa pun selain kembali ke rumah mereka di Myanmar ketika kondisi memungkinkan mereka kembali dengan aman, bermartabat, dan berkelanjutan,” tutur dia.
Kunjungan Andrews pada 13-19 Desember akan meliputi wilayah Dhaka, kamp-kamp pengungsi Rohingya di Cox's Bazar, dan pulau Bhasan Char, yang menampung banyak orang Rohingya.
Andrews mengatakan dirinya akan bertemu dengan perwakilan dari pemerintah Bangladesh, pejabat PBB, perwakilan dari organisasi masyarakat sipil, dan, yang paling penting, anggota komunitas Rohingya.
“Sementara junta Myanmar terus secara sistematis melanggar HAM di Myanmar, sangat penting bahwa komunitas global mendukung mereka yang terpaksa meninggalkan rumah mereka di Myanmar ke Bangladesh,” kata dia.
Dalam kunjungannya itu, pakar PBB tersebut mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Bangladesh yang telah membantu para pengungsi.
“Saya berharap dapat bertemu dengan komunitas Rohingya, untuk mendengarkan mereka, memberikan dukungan, dan bekerja sama dengan mereka menuju solusi jangka panjang yang berkelanjutan dan mengejar pertanggungjawaban atas kekejaman yang dilakukan militer terhadap mereka di Myanmar,” kata Andrews.
Bangladesh sekarang menjadi rumah bagi lebih dari 1,2 juta pengungsi Rohingya, yang sebagian besar melarikan diri dari tindakan keras militer brutal di negara asal mereka Myanmar pada Agustus 2017.
Sejak 25 Agustus 2017, hampir 24.000 Muslim Rohingya telah terbunuh sementara lebih dari 34.000 dilemparkan ke dalam api, lebih dari 114.000 dipukuli, dan sebanyak 18.000 perempuan dan gadis Rohingya diperkosa, menurut laporan oleh Badan Pembangunan Internasional Ontario.
Temuan pelapor khusus akan menjadi bagian dari laporan yang akan disampaikan kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada Maret 2022, kata dewan tersebut.