Darren Lyn
22 Mei 2026•Update: 22 Mei 2026
Amerika Serikat menunda penjualan senjata senilai USD14 miliar kepada Taiwan karena kebutuhan persenjataan untuk perang melawan Iran, menurut pernyataan pejabat Angkatan Laut AS.
Penjabat Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao menyampaikan keputusan itu dalam sidang Komite Alokasi Anggaran Pertahanan Senat di Washington pada Kamis.
Cao mengatakan penundaan dilakukan untuk memastikan militer AS memiliki persediaan amunisi yang cukup bagi operasi militer “Epic Fury” terkait perang dengan Iran.
“Saat ini kami melakukan jeda untuk memastikan kami memiliki amunisi yang dibutuhkan untuk Epic Fury, dan kami memiliki cukup persediaan,” kata Cao kepada anggota komite.
Ia menambahkan penjualan militer ke luar negeri akan dilanjutkan ketika pemerintah menganggap situasi memungkinkan.
Menurut Cao, keputusan akhir terkait penjualan senjata ke Taiwan nantinya berada di tangan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Namun, pernyataan Cao berbeda dengan alasan yang sebelumnya disampaikan Presiden Donald Trump.
Trump sebelumnya mengatakan penjualan senjata ke Taiwan mungkin ditunda sebagai “alat negosiasi” dengan China.
“Saya belum menyetujuinya. Kita lihat nanti apa yang akan terjadi. Saya mungkin melakukannya, mungkin juga tidak,” kata Trump kepada Fox News.
Trump juga mengatakan dirinya membahas isu tersebut secara mendalam dengan Presiden China Xi Jinping saat kunjungannya ke China dan akan mengambil keputusan dalam waktu dekat.
Laporan media menyebut Amerika Serikat selama puluhan tahun memegang prinsip “Six Assurances” dalam hubungan dengan Taiwan, termasuk komitmen untuk tidak berkonsultasi dengan China terkait penjualan senjata ke Taiwan.
Meski Cao menegaskan stok amunisi AS masih mencukupi, sejumlah laporan menyebut militer AS telah menggunakan ribuan rudal sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari.
Persediaan rudal jelajah Tomahawk, rudal pencegat Patriot, Precision Strike Missile, dan rudal darat ATACMS disebut mengalami penurunan signifikan.
Gedung Putih juga dilaporkan berencana meminta tambahan anggaran sebesar 80 hingga 100 miliar dolar AS kepada Kongres untuk mendukung perang Iran, termasuk mengisi kembali stok persenjataan yang telah digunakan.
Sejak April, perang Iran memasuki fase gencatan senjata yang membuat penggunaan amunisi menurun.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth sebelumnya menepis kekhawatiran terkait menipisnya persediaan amunisi dan menilai isu tersebut dibesar-besarkan.
Di tengah perang Iran, Taiwan mendesak pemerintahan Trump tetap melanjutkan penjualan senjata guna menghadapi potensi ancaman militer dari China.
Perwakilan Taiwan untuk AS Alexander Yui mengatakan Taiwan perlu memperkuat kemampuan pertahanannya demi mencegah terjadinya perang.